PROPOSAL
USAHA BUDIDAYA BAWANG MERAH

DISUSUN
OLEH :
JURUSAN
PENYULUHAN PERTANIAN
SEKOLAH
TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN MAGELANG
BADAN
PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN
KEMENTERIAN
PERTANIAN
TAHUN
2016
DAFTAR
ISI
SAMPUL DEPAN.........................................................................................
KATA PENGANTAR................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................. ii
LEMBAR PERSETUJUAN......................................................................... iv
I.
PENDAHULUAN................................................................................... 1
A. Latar
Belakang..................................................................................... 1
B. Masalah................................................................................................. 2
C. Tujuan................................................................................................... 2
D. Manfaat................................................................................................ 2
II.
ASPEK
PEMASARAN.......................................................................... 3
A. Gambaran
Umum pasar........................................................................ 3
B. Permintaan............................................................................................ 5
C. Rencana
Penjualan dan Pangsa Pasar................................................... 5
D. Pesaing.................................................................................................. 6
E. Strategi
Pemasaran............................................................................... 6
III.
ASPEK
PRODUKSI DAN TEKNOLOGI.......................................... 7
A. Produk.................................................................................................. 7
B. Proses
produksi..................................................................................... 9
C. Kapasitas
produksi............................................................................... 16
D. Tanah
dan bangunan............................................................................. 16
E. Peralatan/investasi................................................................................ 16
F. Analisa
usahatani.................................................................................. 17
IV.
ASPEK
MANAJEMEN OPERATIONAL.......................................... 19
A. Struktur
Organisasi............................................................................... 19
B. Uraian
Tugas......................................................................................... 20
LAMPIRAN............................................................................................ 21
1. Rencana
Anggaran Belanja (RAB)...................................................... 21
2. Rencana
Kegiatan................................................................................. 22
V.
PENUTUP............................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 24
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Umbi bawang yang berkualitas tinggi akan
selalu menunjukkan keadaan umbi goreng yang kering dan renyah (tidak lembek).
Sedangkan mengenai kandungan gizinya dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini :
Tabel 1 :komposisi zat makanan dari
tiap 100 gram umbi bawang merah
No
|
Bahan
|
Berat
|
1
|
Protein
|
1,5 gr
|
2
|
Lemak
|
0,3 gr
|
3
|
Karbohidrat
|
9,2 gr
|
4
|
Vitamin A
|
-
|
5
|
Vitamin B
|
0,003 mg
|
6
|
Vitamin C
|
2,0 mg
|
7
|
Kalsium
|
36,0 mg
|
8
|
Pospor
|
40,0 mg
|
9
|
Besi
|
0,8 mg
|
10
|
Air
|
88,0 gr
|
Sumber : Lembaga Makanan Rakyat.
Dep. Kesehatan R.I (1964).
Dari table 1. Tampak bahan
kandungan gizi dalam umbi bawang merah memang rendah, akan tetapi karena
sifatnya yang dapat melezatkan makanan, hingga tiap orang Indonesia menyukai
dan menggunakannya sebagai bumbu-bumbu masakan sehari-hari (rempah-rempah).
B.
Masalah
1.
Sulitnya menanam bawang
merah dikarenakan sedang musim penghujan.
2.
Terdapat banyak
penyakit yang rentan menyerang bawang merah saat musim penghujan.
3.
Harga jual bawang merah
yang fluktuasi.
C.
Tujuan
1. Membudidayakan
tanaman bawang merah di luar musim tanam yang biasa di tanam oleh petani.
2. Melihat
peluang usaha dengan bercocok tanam di luar musim
3. Memperoleh
keuntungan dari budidaya bawang merah di luar musim tanam.
4. Mempraktekkan
ilmu kewirausahaan dalam kegiatan
budidaya tanaman bawang merah.
D.
Manfaat
1. Mahasiswa
mengetahui secara pasti bagaimana cara berwirausaha.
2. Mengetahui
budidaya bawang merah sesuai dengan keadaan di lapangan.
II ASPEK PEMASARAN
A.
Gambaran Umum Pasar
Tata niaga bawang
merah tidak jauh berbeda dengan jalur tata niaga sayuran rempah lainnya. Tidak ada
keterangan resmi yang mengatur tata niaga tersebut sehingga pengadaan dan penyaluran
dapat dilakukan secara bebas oleh petani maupun pedagang. Dalam pelaksanaannya
ada 3 pihak yang terlibat, yaitu: Petani sebagai penyedia komoditi, pedagang
perantara, dan konsumen akhir.
Terdapat banyak cara yang di temukan
petani dalam penyaluran hasil panennya. Cara tersebut antara lain sebagai
berikut.
1.
Petani
menyalurkan ke tengkulak kampung yang langsung mendatangi lahannya. Tengkulak
tersebut membeli dengan cara tebas, yakni berdasarkan hasil taksiran jumlah
panen. Semua biaya penanganan, selajutnya menjadi tanggungan tengkulak. Setelah
di bersihkan dan di pisahkan menjadi beberapa kelas mutu, bawang merah di
angkut kepasar penampungan. Dari sini tengkulak kampung menyalurkannya kepada
tengkulak pasar. Besarnya harga bervariasi, tergantung pada mutunya.
Penyaluran selanjutnya adalah pedagang
antarkota, antarpulau, atau pedang pengecer di pasar-pasar kecil. Transaksi
penjualan (besarnya harga dan biaya penanganan) dicapai melalui kesepakatan.
2.
Petani
menjual hasil panennya secara langsung kepada pedagang antarkota, pedagang
antarpulau, atau melalui perantaraan calo (makelar). Pada cara ini para
pedagang langsung mendatangi lahan petani dan mengadakan transaksi. Apabila
telah ada kata sepakat maka komoditi langsung diangkut.
Daerah pemasaran
bawang merah hampir tersebar diseluruh kota. Biasanya bawang merah ditampung di
pasar induk sayuran, misalnya pasar induk Keramat Jati di Jakarta. Dari sini
bawang merah dipindahkan tangan kepedagang besar (grosir) dan selanjutnya
kepada para pedagang pengecer. Konsumen terakhir dapat memperolehnya dari para
pedagang pengecer.
Untuk lebih jelasnya, jalur tataniaga di
atas dapat dilihat pada skema tata niaga bawang merah dalam negeri.
·
Skema
tata niaga bawang merah dalam negeri
Konsumen
dalam negeri
|
Pasar
induk kota
|
Pedagang
pengecer
|
Petani
|
Tengkulak
Kampung
|
Tengkulak
Pasar
|
Perantara
|
Pedagang
Antar Kota/ Antar Pulau
|
B. Permintaan
Bawang merah merupakan komoditas
agribisnis yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Di Jawa, permintan bawang merah
segar antara lain datang dari Malaysia, Singpura dan Thailand. Sedangkan
permintaan bawang merah olahan (bawang goreng) antara lain datang dari
Malaysia, Arab Saudi, dan Sudan. Kebutuhan bawang merah cenderung terus meningkat
setiap tahun, sejalan dengan bertambahnya jumlah konsumen serta semakin meningkatnya peluang pasar dalam negeri
maupun ekspor. Oleh Karena itu agribisnis bawang merah masih memiliki prospek
yang cerah.
Bawang merah biasanya dimanfaatkan
sebagai bahan pangan dalam bentuk segar, bumbu-bumbu masakan, dan atau bentuk
olahan kering. Tangkai bawang merah juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan
sayur. Pemanfaatan tangkai bawangmerah sebagai bahan sayur terutama dilakukan
jika budidaya tanaman tidak menggunakan pestisida sehingga relative lebih aman.
Permintaan bawang merah terus meningkat
, tidak hanya di pasar dalam negeri.
Dalam periode tahun 1986-1990, ekspor bawang merah Indonesia mancapai 89.678
kg, senilai US $ 71. 545 atau rata-rata per tahun sebesar 17.935 kg senilai US
$ 14.309, dengan Negara sasaran utama Singapura, Malaysia dan Hongkong.
C.
Rencana Penjualan dan Pangsa Pasar
Bawang
merah hasil produksi kami, akan kami pasarkan berdasarkan grade dari yang
tertinggi hingga yang terendah, sedangkan untuk target pemasarannya kami
pasarkan disekeliling komplek STPP atau Strategi
lain yang digunakan yaitu dengan menjual kepada konsumen langsung baik itu
masyarakat sekitar maupun kepada staf karyawan dan dinas-dinas terdekat. Karena
bawang merah merupakan kebutuhan pokok yang selalu diperlukan manusia, bawang
merah akan sangat mudah dipasarkan. Bawang merah
merupakan kebutuhan harian kaum ibu-ibu yang diperlukan sehari-hari dalam
urusan rumah tangga, jadi target pasar utama adalah ibu-ibu.
Bawang
merah yang kami produksi akan kami
pasarkan dengan menurut grade A,B,C. untuk penjualannya kami bedakan
harga sesuai grade yang kami siapkan dan target pasar kita adalah ibu-ibu yang
ada di komplek sekitar, bapak/ibu dosen, pasar.
D.
Pesaing
Persaingan
pasar untuk produk pertanian bawang merah tidak begitu ketat karena produk
bawang merah banyak dibutuhkan masyarakat sedangkan stok produksi bawang merah
lokal yang ada terbatas walaupun dapat mencukupi kebutuhan yang dibutuhkan.
Pesaing produk bawang merah lokal yaitu adanya produk bawang import. Produk
bawang import kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan produk bawang lokal
serta harganya yang lebih murah. Sehingga produk bawang lokal menjadi
tersaingi.
E.
Strategi Pemasaran
Salah satu strategi
yang kami guanakn adalah dengan memanfaatkan sedikitnya pesaing dan harga yang
bersaing dipasaran.
Salah satu strategi pemasaran yang menjadi andalan adalah
dengan menanam bawang merah diluar musim tanam. Pada dasarnya musim tanam
bawang merah pada musim kemarau dan menanam pada musim hujan banyak resiko yang
akan terjadi misalnya saja melimpahnya air yang akan menyebabkan kelembaban
sehingga tanaman rentan terserang penyakit busuk dan menyebabkan tanaman mati.
Padahal, umumnya harga bawang merah pada musim hujan lumayan tinggi dapat
mencapai 4-5 kali harga bwang di musim panen. Oleh sebab itu keadaan ini
merupakan peluang bisnis jika penanaman dapat dilakukan dengan baik dengan
harga pemasaran yang menjanjikan.
Strategi lain yang digunakan yaitu dengan menjual kepada
konsumen langsung baik itu masyarakat sekitar maupun kepada staf karyawan dan
dinas-dinas terdekat. Karena bawang merah merupakan kebutuhan pokok yang selalu
diperlukan manusia, bawang merah akan sangat mudah dipasarkan.
III.
ASPEK PRODUKSI DAN TEKNOLOGI
A.
Produk
Klasifikasi Botani
Klasifiaksi
botani bawang merah adalah sebagai berikut:
Kingdom: Plantae
(Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta
(Tumbuhan dengan pembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta
(Menghasilkan bebijian)
Divisi: Magnoliophyta
(Tumbuhan dengan bunga)
Kelas: Liliopsida
(berkeping satu atau monokotil)
Sub Kelas: Liliidae
Ordo: Lilialesn
b
Famili: Liliaceae
(suku bawang-bawangan)
Genus: Allium
Spesies: Allium
Cepa Var.Aaggregatum L.
·
Morfologi
Berikut ini
adalah morfologi tanaman bawang merah:
Bunga bawang
merah merupakan bunga majemuk berbentuk tandan yang bertangkai dengan 50-200
kuntum bunga. Pada ujung dan pangkal tangkai mengecil dan dibagian tengah
menggembung, bentuknya seperti pipa yang berlubang didalamnya. Tangkai tandan
bunga ini sangat panjang, lebih tinggi dari daunnya sendiri dan mencapai 30-50
cm. Bunga bawang merah termasuk bunga sempurna yang tiap bunga terdapat benang sari
dan kepala putik. Bakal buah sebenarnya terbentuk dari 3 daun buah yang disebut
carpel, yang membentuk tiga buah ruang dan dalam tiap ruang tersebut terdapat 2
calon biji. Buah berbentuk bulat dengan ujung tumpul. Bentuk biji agak pipih.
Biji bawang merah dapat digunakan sebagai bahan perbanyakan tanaman secara
generatif.
·
Kandungan
Gizi
Berikut
ini adalah kandungan gizi bawang merah:
Nilai
Gizi Per 100 G (3.5 Oz)
Energi
166 kJ (40 kcal)
Karbohidrat 9,34 g
Gula 4,24 g
Diet serat 1,7 g
Lemak 0,1 g
jenuh 0,042 g
monounsaturated 0,013 g
polyunsaturated 0.017 g
Protein 1,1 g
Air 89,11 g
Vitamin A equiv. 0 mg (0%)
Thiamine (Vit. B1) 0,046 mg (4%)
Riboflavin (Vit. B2) 0,027 mg (2%)
Niacin (Vit. B3) 0.116 mg (1%)
Vitamin B6 0,12 mg (9%)
Folat (Vit. B9) 19 mg (5%)
Vitamin B12 0 mg (0%)
Vitamin C 7.4 mg (12%)
Vitamin E 0,02 mg (0%)
Vitamin K 0,4 mg (0%)
Kalsium 23 mg (2%)
Besi 0,21 mg (2%)
Magnesium 0,129 mg (0%)
Fosfor 29 mg (4%)
Kalium 146 mg (3%)
Sodium 4 mg (0%)
Seng 0,17 mg (2%)
Karbohidrat 9,34 g
Gula 4,24 g
Diet serat 1,7 g
Lemak 0,1 g
jenuh 0,042 g
monounsaturated 0,013 g
polyunsaturated 0.017 g
Protein 1,1 g
Air 89,11 g
Vitamin A equiv. 0 mg (0%)
Thiamine (Vit. B1) 0,046 mg (4%)
Riboflavin (Vit. B2) 0,027 mg (2%)
Niacin (Vit. B3) 0.116 mg (1%)
Vitamin B6 0,12 mg (9%)
Folat (Vit. B9) 19 mg (5%)
Vitamin B12 0 mg (0%)
Vitamin C 7.4 mg (12%)
Vitamin E 0,02 mg (0%)
Vitamin K 0,4 mg (0%)
Kalsium 23 mg (2%)
Besi 0,21 mg (2%)
Magnesium 0,129 mg (0%)
Fosfor 29 mg (4%)
Kalium 146 mg (3%)
Sodium 4 mg (0%)
Seng 0,17 mg (2%)
Sumber: USDA Nutrient database
·
Manfaat
Bawang Merah
Dari klasifikasi bawang
merah di atas, kita bisa mengurai kedekatannya dengan jenis bawang
lainnya. Mereka semua masuk ke dalam kerabat Liliaceae atau suku
bawang-bawangan. Dengan demikian, ia bersaudara dengan bawang putih, Bombay,
bawang daun, kucai dan jenis bawang-bawangan lainnya. Sebagai bumbu, bawang
merah sebenarnya tak hanya berfungsi sebagai penguat rasa. Berdasarkan
penelitian para ahli gizi, bawang merah mengandung sejumlah senyawa yang baik
jika dikonsumsi oleh manusia. Di dalamnya terdapat vitamin C, serat alami, asam
folat, kalium dan banyak lagi lainnya. Senyawa inilah yang kemudian menjadikan
bawang merah ampuh melawan sejumlah penyakit. Salah satu yang paling populer
adalah kemampuannya melawan kanker. Jika Anda terbiasa mengkonsumsi sate,
keberadaan bawang merah mentah bukan hanya sekedar penambah rasa tetapi juga
penangkal kanker yang bisa ditimbulkan karbon pada bekas pembakaran sate.
B.
Proses Produksi
1. Persiapan Lahan
Hal-hal pertama dilakukan pada persiapan lahan adalah pembersihan gulma
dan sisa tanaman yang tidak bisa membusuk dan terurai atau terdekomposisi,
termasuk tanaman berkayu pada tanah tegalan, serta batu-batu kerikil yang
berpengaruh terhadap susunan tanah.
Gulma dan sisa tanaman yang mudah membusuk dibabat dan dibenamkan ke
dalam tanah, sedangkan sisa tanaman yang proses pembusukannya membutuhkan waktu
lama dan batu-batu kerikil disingkirkan.
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanh bertujuan menyiapkan kondisi lahan sesuai dengan
persyaratan tumbuh tanaman yang dibudidayakan. Dengan pengolahan tanah ini akan
tercipta kondisi tanah yang gembur dan porous. Akibatnya, ketersediaan air dan
udara di dalam tanah akan seimbang sehingga gas beracun di dalam tanah akan
keluar. Disamping itu, gulma dan sisa tanaman akan mengembalikan sebagian hara
yang telah diserap tanaman. Karena tanah yang porous terisi air dan udara maka
jasad renik pembusuk sisa tanaman dapat memperpanjang hidupnya.
Pembuatan parit keliling pada sawah sangat menolong dalam pengaturan air
(drainase), sehingga kelebihan air pada pori tanah akan berkurang.
Pengolahan lahan pada penanaman bawang merah dibedakan anatra pengolahan
pada tanah ringan dan pengolahan pada tanah berat.
a. Pengolahan pada tanah
ringan
Pengolahan pada tanah ringan, misalnya pada tanah tegal adalah sebagai
berikut :
Ø Tanah langsung diolah dengan cangkul, bajak atau alat pengolah lahan
lainnya hingga sempurna. Biasanya, pengolahan dilakukan dua kali dan pada
pengolahan yang kedua dicampurkan pupuk kandang sebanyak 10 yon-20 ton per
hektar tergantung keadaan tanah.
Ø Buat parit keliling dan parit pembatas antar bedengan dengan lebar 30
cm-40 cm.
Ø Selanjutnya, dibentuk bedengan yang permukaannya diratakan. Ketinggian
bedengan 15 cm-30 cm, lebar 1 m-1,2 m dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi
lahan.
b. Pengolahan pada tanah
berat atau tanah sawah
Pada tanah berat ataupun tanah sawah bekas penanaman padi, pengolahan
dilakukan dengan cara sebagai berikut:
Ø Buat parit keliling sebagai drainase, dilanjutkan dengan pembuatan parit
pembatas antar bedengan yang berukuran lebar 30 cm-40 cm. tanah dibiarkan
selama 1-2 minggu.
Ø Lakukan pengolahan tanah dengan kedalaman 30 cm dan dibiarkan selama 1-2
minggu.
Ø Tambahkan pupuk kandang diatas bedengan bersamaan dengan pengolahan tanah
ringan sekaligus mencampur pupuk. Selanjutnya bedengan diratakan kemudian
dilakukan penyiraman sehingga lahan siap ditanami.
3. Persiapan Bibit dan
Penanaman
Persiapan pembibitan bawang merah membutuhkan rumah atau sungkup
pembibitan untuk melindungi bibit muda. Kebutuhan bibit bawang merah 15 kg/100
m2.. Pilih lokasi persemaian yang tanahnya subur dan intensitas cahaya matahari
sempurna. Cangkul tanah sedalam 30 cm hingga gembur, kemudian keringanginkan
selama 2 minggu. Buat bedengan dengan ukuran lebar 80-100 cm dan tinggi 30 cm.
Berikan pupuk kandang yang telah difermentasi sebanyak 2 kg/m2, NPK 15-15-15
sebanyak 10 gram/m2. Buat alur-alur dangkal dengan arah alur memotong panjang
bedengan. Jarak antaralur 5-10 cm. Tebar biji bawang merah secara merata pada
alur kemudian tutup tipis dengan tanah. Untuk mempercepat perkecambahan benih
permukaan media ditutup menggunakan kain goni (bisa juga menggunakan mulsa
PHP), dijaga dalam keadaan lembab.
Pembukaan penutup permukaan media semai dilakukan apabila benih sudah
berkecambah, baru kemudian benih disungkup menggunakan plastik transparan.
Pembukaan sungkup dimulai jam 07.00 - 09.00, dibuka lagi jam 15.00-17.00. Umur
7 hari menjelang tanam sungkup harus dibuka secara penuh untuk penguatan
tanaman. Penyiraman jangan terlalu basah, dilakukan setiap pagi. Penyemprotan
menggunakan fungisida berbahan aktif simoksanil dan insektisida berbahan aktif
imidakloprid dilakukan pada umur 15 hss (hari setelah semai). Dosis/konsentrasi
½ dosis terendah.
Bibit bawang merah berumur 30 hari siap untuk di tanam. Sebelum ditanam,
bibit yang telah dicabut direndam dalam larutan karbofuran (konsentrasi 1 gr/
liter selama 2 jam). Penanaman berjumlah satu tanaman per titik tanam, usahakan
posisi berdiri tegak. Adapun Jarak tanamn yang biasa di gunakan yaitu 20 X 15
cm dengan kebutuhan bibit 240.000 – 300.000 umbi.
4. Kegiatan Pemeliharaan
a.
Penyulaman
Penyulaman
dilakukan sampai umur tanaman 2 minggu. Tanaman bawang merah yang sudah terlalu
tua apabila masih terus disulam mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam. Hal
ini akan berpengaruh terhadap keseragaman pemanenan.
b.
Penyiangan
Penanaman bawang merah memerlukan pemeliharaan yang baik. Penyiangan dan
penggemburan tanah merupakan salah satu bentuk pemeliharaan yang berkaitan satu
sama lain.
Penyiangan dan penggemburan bertujuan :
Ø Menekan persaingan perolehan hara pada tanaman pokok terhadap gulma;
Ø Mengembalikan kondisi tanah menjadi gembur sehingga air dan udara dapat
tersedia pada pori-pori tanah;
Ø Menguatkan tegaknya tanaman dengan menimbun tanah pada tanaman yang
akarnya terbuka.
Pada saat melakukan penyiangan dan penggemburan ini, biasanya dilakukan
perbaikan bedengan atau petak pertanaman beserta parit-parit disekelilingnya.
Penyiangan dan pengemburan lahan pertanman bawang merah biasanya
dilakukan 2 kali atau lebih selama satu musim tanam. Hal ini sangat tergantung
pada tingkat persaingan gulma, yang ditandai dengan kecepatan pertumbuhan dan
persentase jumlah gulma yang menutupi tanah.
Penyiangan pertama dilakukan dengan pada saat tanaman mulai tumbuh,
pertumbuhan daun mulai tampak, yaitu pada umur 2-3 minggu setelah tanam.
Penyiangan berikutnya dilakukan pada umur 4-5 minggu setelah tanam. Penyiangan
selanjutnya sangat tergantung pada kondisi lingkungan.
Pada saat berlangsungnya pertumbuhan umbi, penyiangan dan penggemburan
diupayakan secara hati-hati. Efisiensi tenaga dapat dicapai apabila
penggemburan dan pemupukan dilakukan sekaligus. Alat yang digunakan untuk
penyiangan dapat berupa kored atau cangkul kecil dan dicabut dengan tangan.
c.
Sanitasi Lahan dan Pengairan
Sanitasi lahan budidaya bawang merah meliputi :
pengendalian gulma/rumput (penyiangan), pengendalian air saat musim hujan
sehingga tidak muncul genangan serta pencabutan tanaman bawang merah yang
terserang hama penyakit. Penyiangan dilakukan sebelum melakukan pemupukan
susulan baik pemupukan susulan pertama maupun kedua. Penyiangan gulma dapat
dicabut secara manual atau menggunakan alat gosrok/landak.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban dua hari sekali selama 15-30 menit tergantung kondisi kelembaban tanah.
Pengairan diberikan secara terukur, dengan penggenangan atau pengeleban dua hari sekali selama 15-30 menit tergantung kondisi kelembaban tanah.
Pengairan pada bawang merah dilakukan sejak awal
tanam selama tujuh hari, pagi, siang dan sore. Dalam hal ini dijaga agar tanah
dalam kondisi tetap lembab dengan perbandingan udara dan air dalam pori tanah
mendekati seimbang. Setelah pertumbuhan tanaman semakin baik, penyiraman
dilakukan satu hari sekali. Apabila kondisi kelembapan didalam tanh cukup,
pengairan dapat dilakukan 2 harisekali pada sore hari. Pengairan diberikan
hingga tanaman berumur 6 minggu.
Selama pembentukan umbi, tanaman bawang merah
membutuhkan air yang cukup. Oleh karena itu, pada fase tersebut, frekuensi
penyiraman perlu ditingkatkan lagi. Misalnya 2 kali sehari. Biasanya pada saat
itu tanaman telah berumur ± 2 bulan, tergantung varietas tanaman.
Pada saat umbi mencapai ukuran maksimal dan
tanaman sudah mulai menunjukkan tanda-tanda perubahan warna daun, pengairan
dihentikan. Pemberian air dapat dilakukan dengan meresapkan air melalui parit-parit atau penyiraman langsung pada
bedengan.
d.
Pemupukan
Pemupukan
sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan tanman. Oleh karena
itu, tanaman bawang pun harus dipupuk. Penggunaan pupuk dapat berupa pupuk
organic, misalnya pupuk kandang, dapat juga diberikan pupuk anorganik yang
berupa pupuk buatan pabrik misalnya urea, ZA,TSP, KCL/ZK, DS dan pupuk majemuk.
Pupuk buatan ini memiliki kandungan unsure hara yang lebih tinggi daripada
pupuk alam, terutama unsure yang diperlukan oleh tanaman dalam jumlah besar.
Ø Pupuk Organic
Penggunaan
pupuk organic bisa diberikan dalam bentuk pupuk kandang dengan dosis 10 ton-20
ton per hektar yang diberikan sebagai pupuk dasar. Dosis ini diberikan pada
tanah yang kaya akan bahan organic, sehingga penggunaan pupuk organic ini dapat
lebih meningkat daripada dosis tersebut. Pupuk organic diberikan dalam keadaan
matang atau dingin.
Ø Pupuk Buatan
Dalam
setiap hektar pertanaman, unsure hara yang harus disediakan untuk penanamn
bawang merah. Apabila digunakan pupuk tunggal, seperti Urea, TSP, dan KCL maka
pupuk yang diberikan 267 kg urea;312 kg TSP dan 200 kg KCL.
e.
Waktu
pemupukan
Pemberian
pupuk buatan dan organic ini dilakukan dalam 3 tahap, yaitu pada saat :
1)
Pengolahan atau
menjelang tanam diberikan pupuk kandang;
2)
Tanaman berumur 2-3
minggu setelah tanam. Pada waktu itu diberikan ½ bagian pupuk urea serta 1
bagian pupuk TSP dan KCL;
3)
Setelah tanaman berumur
4-5 minggu. Pada waktu itu tanaman dipupuk urea lagi ½ dosis. Urea ini
merupakan sisa yang pernah diberikan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu.
·
Cara pemupukan
Pemupukan
tanaman bawang merah dilakukan dengan membuat alur secara melingkar ataupun
secara larikan.
Kedalaman
lubang alur antara 3 cm-5 cm atau setinggi umbi bibit yang ditanam tegak
berdiri, sedangkan jarak lubang pemupukan dengan tanaman bawang merah antar 5
cm-10 cm tergantung perkembangan tanman. Setelah pupuk dimasukkan kedalam
lubangtersebut, lubang pupuk ditutup dengan tanah dan sekaligus dilakukan
penyiangan dan pembumbunan.
C. Kapasitas Produksi
Benih
yang kami gunakan untuk luas lahan 100 m2 yaitu 25 kg. Hasil panen bawang merah
jika menggunakan bibit sebanyak 1 kg, dapat menghasilkan 10 kg. maka
diperkirakan hasil produksi bawang merah dengan menggunakan bibit sebanyak 25
kg yaitu ± 250 kg.
D. Tanah dan Bangunan
Tempat
pelaksanaan kegiatan wirausaha Budidaya Bawang Merah Yaitu di Kebun Celeban,
STPP Yogyakarta. Luas areal budidaya bawang merah yaitu 100 m2. Jumlah bedengan
yang dibuat yaitu 4 buah dengan masing-masing Panjang bedengan = 10 m dan Lebar
bedengan = 1,2 m.
E. Peralatan Dan
Investasi
Peralatan
yang digunakan dalam membudidayakan Bawang merah yaitu:
1. Cangkul
2. Sabit
3. Handspayer
4. Gembor
5. Mulsa
Plastik Hitam Perak
F. Analisa Usahatani
A. INPUT
|
SATUAN
|
HARGA
|
a.
Penyusutan Alat
|
|
|
1.Cangkul
|
5 Buah @ Rp 50.000
|
Rp 9.000
|
2. Handspayer
|
1 Buah @ Rp 300.000
|
Rp 54.000
|
5. Gembor
|
2 Buah @ Rp 50.000
|
Rp 18.000
|
6. Sabit
|
2 Buah @Rp 25.000
|
Rp 13.500
|
7. Mulsa Plastik Hitam Perak
|
1 Buah @ Rp 250.000
|
Rp 45.000
|
b.
Bukan Penyusutan Alat
|
|
|
1. Gunting
|
4 buah @ Rp 5.000
|
Rp 20.000
|
2. Karung
|
3 buah @ Rp 2.000
|
Rp 6.000
|
Total
Input Tetap
|
|
Rp
139.500
|
|
|
|
b.
Biaya saprodi Habis Pakai
|
|
|
1. Bibit
|
25 Kg @ Rp 30.000
|
Rp 750.000
|
2. Pupuk Kandang
|
200 kg @ Rp 1.500
|
Rp 300.000
|
3. Pupuk Anorganik
|
|
|
·
Urea
|
12 kg @ Rp 8.000
|
Rp 94.000
|
·
SP36
|
10 kg @ Rp
8000
|
Rp 80.000
|
·
KCL
|
12 kg @ Rp
13000
|
Rp 156.000
|
6. Zpt
|
1 Botol @ Rp 45.000
|
Rp 45.000
|
7. Herbisida
|
1 Botol @ Rp 60.000
|
Rp 60.000
|
8. Insektisida
|
1 Botol @ Rp 33.500
|
Rp 33.500
|
9. Fungisida
|
1 Botol @ Rp 75.000
|
Rp 75.000
|
Total
Biaya Variabel
|
|
Rp
1.593.500
|
Total
Input =
Biaya Tetap + Biaya Variable
=
Rp 139.500 + Rp 1.593.500
=
Rp 1.733.000
B.
Pendapatan =
Jumlah Produksi × Harga Jual
= 250 kg × Rp 20.000
= Rp 5.000.000
C.
BEP Produksi =
Biaya Produksi : Harga Jual
=
Rp 1.733.000: Rp 2.000
=
86,65
Hasil
tersebut menandakan, pada produksi 86,65
kg, usaha budidaya bawang merah tidak mengalami keuntungan maupun
kerugian.
D.
BEP Harga =
Biaya produksi : Jumlah Produksi
=
Rp 1.733.000 : 250 kg
=
Rp 6.932,-
Dengan
harga jual Rp 6.932/kg, usaha budidaya bawang merah mengalami titik impas.
E.
ROI =
Hasil Penjualan : Total Biaya Produksi × 100%
=
Rp 5.000.000 : Rp 1.733.000 × 100 %
=
288,5%
Hasil
ROI sebesar 288,5% berarti bahwa dari modal sebesar Rp 100,- akan diperoleh
pendapatan sebesar Rp288,5.
F.
B/C Ratio =
Keuntungan Bersih : Biaya Produksi
= Rp 5.000.000 : Rp 1.733.000
= 2,88
Dengan
hasil B/C sebesar 2,88, berarti dari
biaya yang dikeluarkan akan diperoleh keuntungan sebesar 2,88 %.
IV.
ASPEK MANAJEMEN OPERATIONAL
A.
Struktur
Organisasi
B.
Uraian
Tugas
1. Ketua : Ketua bertugas sebagai pemimpin yang mana di
dalam sebuah organisasi dia memberikan aturan, arahan sertamerangkul semua
anggota untuk bekerja sama mewujudkan tujuan organisasi.
2. Sekretaris :
Bertugas sebagai petugas harian yang mencatat semua kegiatan yang berlangsung
serta mencatat semua keperluan yang di butuhkan.
3. Bendahara :
Bertugas sebagai pengatur pemasukan dan pengeluaran yang diperlukan dalam
kegiatan budidaya.
4. Seksi belanja :
Belanja semua kebutuhan yang diperlukan dalam budidaya.
5. Seksi perlengkapan : Menyediakan peralatan yang akan digunakan pada saat proses
budidaya.
LAMPIRAN
1.
Rencana
Anggaran Belanja (RAB)
1. Bibit
|
25 Kg @ Rp 30.000
|
Rp 750.000
|
2. Pupuk Kandang
|
200 kg @ Rp 1.500
|
Rp 300.000
|
3. Pupuk Anorganik
|
|
|
·
Urea
|
12 kg @ Rp 8.000
|
Rp 94.000
|
·
SP36
|
10 kg @ Rp
8000
|
Rp 80.000
|
·
KCL
|
12 kg @ Rp 13000
|
Rp 156.000
|
6. Zpt
|
1 Botol @ Rp 45.000
|
Rp 45.000
|
7. Herbisida
|
1 Botol @ Rp 60.000
|
Rp 60.000
|
8. Insektisida
|
1 Botol @ Rp 33.500
|
Rp 33.500
|
9. Fungisida
|
1 Botol @ Rp 75.000
|
Rp 75.000
|
Jumlah
|
|
Rp
1.593.500
|
2.
Rencana
Kegiatan
Jadwal Kegiatan
|
||||||||||||||||||||||||
Uraian
Kegiatan
|
Waktu
|
|||||||||||||||||||||||
Februari
Minggu Ke-
|
Maret
Minggu Ke-
|
April
Minggu Ke-
|
||||||||||||||||||||||
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
I
|
II
|
III
|
IV
|
|||||||||||||
Penulisan Proposal
|
|
v
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
||||||||||||
Persiapan Lahan
|
v
|
|||||||||||||||||||||||
Pengolahan Lahan
|
v
|
v
|
v
|
v
|
v
|
v
|
v
|
|||||||||||||||||
Pemupukan Dasar
|
|
v
|
||||||||||||||||||||||
Persiapan Bibit dan Penanaman
|
|
v
|
v
|
v
|
v
|
v
|
v
|
|||||||||||||||||
Penyiraman
|
|
v
|
||||||||||||||||||||||
Penyulaman
|
|
v
|
||||||||||||||||||||||
Penyiangan
|
|
v
|
v
|
|||||||||||||||||||||
Pemupukan Susulan
|
|
v
|
v
|
|||||||||||||||||||||
Pemanenan
|
|
v
|
v
|
|||||||||||||||||||||
Pemasaran
|
|
v
|
v
|
|||||||||||||||||||||
BAB V
PENUTUP
Kegiatan
Budidaya tanaman bawang merah dilaksankan diluar musim tanam. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui bagaimana cara membudidayakan tanaman bawang merah diluar
musim tanam dan dengan melaksanakan kegiatan wirausaha ini mahasiswa dapat
mengetahui permasalahan apa saja yang muncul pada saat budidaya tanaman bawang
merah diluar musim tanam yaitu pada saat
musim penghujan dan bagaimana cara pengendaliannya. Dan diharapkan melalui
kegiatan ini mahasiswa dapat melihat peluang pasar dari kegiatan budidaya
tanaman bawang merah diluar musim tanam.
DAFTAR PUSTAKA
Sunaryono,Hendro.
1983.”Budidaya Bawang Merah (allium
ascalonicum)”. (Bandung : Sinar biru).
Sugiharto. 2000.
“Budidaya Tanaman Bawang Merah”. (Semarang : CV. Aneka Ilmu Semarang).
0 komentar:
Posting Komentar